KALTENG –http://Inovasiborneo.co.id-BPS Kalteng menyampaikan strategi dalam pengendalian inflasi bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu menjaga ketersediaan stok dan keterjangkauan harga pangan terutama beras; menjaga keamanan stok dan keterjangkauan harga holtikultura yang cenderung naik menjelang akhir tahun akibat bencana alam; antisipasi kenaikan harga tiket pesawat menuju akhir tahun; dan memastikan harga bahan bakar rumah tangga (gas elpiji) tetap sesuai aturan.

Sebagai informasi, pada Oktober tahun 2022 ini Provinsi Kalteng mengalami penurunan inflasi dari 8,12% (yoy) periode September dan berada di urutan empat setelah Provinsi Sumatera Barat, NTT, dan Kalimantan Selatan, dengan nilai inflasi sebesar 7,10% (yoy).
Berdasarkan data inflasi Kalimantan Tengah dari bulan Januari hingga Oktober, Bahan Bakar Rumah Tangga merupakan komoditas yang paling sering menjadi 10 besar penyumbang inflasi, dengan andil inflasi yang cukup besar yakni 0,07%. Hal ini juga disusul dengan komoditas beras yang memiliki komoditas dengan rata-rata andil terbesar, dan cukup sering menjadi penyumbang inflasi terbesar, yaitu sebanyak 7x dari 10 bulan terakhir,” imbuhnya.
Untuk itu,perlu adanya fokus quick wins pengendalian inflasi jangka pendek yang dilakukan oleh TPID Kalteng yaitu dengan menyelenggarakan operasi pasar dan pasar penyeimbang agar menjaga harga-harga komoditas yang sudah turun tidak naik lagi.
“Sedangkan untuk jangka panjangnya, perlu didorong pergerakan struktural ke arah pasokan. Hal ini dapat diwujudkan melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD) bersama daerah sentra penghasil komoditas pangan untuk menjamin ketersediaan pasokan.
Selain itu juga dapat didorong pendirian sentra-sentra komoditas yang persisten menyumbang inflasi khususnya pada kelompok Volatile Food (pangan bergejolak),” pungkasnya.

