PalangkaRaya IB- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengenai Prospek Ekonomi 2021 dan Arah Kebijakan Bank Indonesia. Dalam paparannya, Perry mengatakan bahwa BI optimis pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2021 dapat terwujud dengan penguatan sinergi melalui 1 prasyarat dan 5 strategi.

Satu prasyarat tersebut adalah vaksinasi dan disiplin protokol COVID-19, sedangkan 5 strategi respons kebijakan dijalankan melalui pembukaan sektor produktif dan aman, percepatan stimulus fiskal (realisasi anggaran), peningkatan kredit dari sisi permintaan dan penawaran, stimulus moneter dan kebijakan makroprudensial, dan digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya UMKM.
Perry melanjutkan, pada tahun 2021, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh mencapai 4,8-5,8%, didukung oleh peningkatan kinerja ekspor, konsumsi swasta dan pemerintah, serta investasi baik dari belanja modal Pemerintah maupun dari masuknya PMA sebagai respons positif terhadap UU Cipta Kerja. Stabilitas makroekonomi terjaga dengan inflasi yang akan terkendali sesuai sasaran 3±1% serta nilai tukar Rupiah yang akan bergerak stabil dan berpotensi menguat.
“Momentum pemulihan ekonomi nasional perlu terus didorong dengan memperkuat sinergi membangun optimisme oleh semua pihak baik Pemerintah (Pusat dan Daerah), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan dan berbagai pihak lainnya,” ungkap Perry seraya menegaskan kembali vaksinasi dan disiplin protokol Covid-19 sebagai kondisi prasyarat bagi pemulihan ekonomi nasional.
Bank Indonesia juga akan terus mengarahkan seluruh instrumen kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, yang terkoordinasi erat dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Sementara itu Presiden Joko Widodo dalam arahannya, mengatakan momentum pertumbuhan yang positif harus tetap dijaga dan jangan sampai lengah, tetap disiplin terapkan protokol kesehatan agar jangan sampai terjadi gelombang kedua yang akan sangat merugikan upaya yang sudah kita lakukan.
Pemerintah fokus pada upaya keluar dari pandemi dan menyiapkan program vaksinasi. Presiden menekankan kita harus bergerak cepat karena masih banyak pekerjaan rumah yang belum kita selesaikan misalnya jumlah pengangguran akibat PHK dimasa pandemi, angkatan kerja yang memerlukan lapangan kerja, pemerintah membenahi regulasi dan birorkasi yang rumit.
“Saya berharap BI mengambil bagian yang lebih signifikan dalam reformasi fundamental yang kita gulirkan. Kontribusi lebih besar, gerakkan sektor riil, mendorong terciptanya lapangan kerja baru dan para pelaku usaha UMKM agar bisa kembali produktif,” kata Presiden Joko Widodo.
Dalam situasi krisi seperti ini, Presiden meminta agar kita mampu bergerak cepat dan tepat, “ Buang jauh-jauh ego sektoral, egosentrisme lembaga dan jangan membangun tembok tinggi-tinggi berlindung di balik otoritas masing-masing.
Kita harus berbagi beban, berbagi tanggung jawab untuk urusan bangsa dan negara ini agar mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat regional dan global,” pesan Presiden.

