Inovasi Borneo-SAMPIT – Masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) pada siang ini, Minggu 21 Juni 2020, akan melihat Gerhana Matahari Cincin. Jika tidak ada aral, secara umum fenomena alam akan terlihat di Bumi Tambun Bungai, sekira pukul 14.26 WIB dan puncaknya 15.22 WIB, serta berakhir pada pukul 16.14 WIB.

Terkait hal tersebut, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara H Asan Sampit merilis Indonesia akan mengalami gerhana matahari bersama dengan negara-negara lainnya pada tanggal 21 Juni 2020. Sementara durasi gerhana yang teramati di Kalimantan Tengah rata-rata adalah 1,61 jam.
“Untuk prakiraan terupdate kemrin, yakni pada hari ini di prakirakan berawan berpotensi hujan ringan. Untuk cuaca terupdate hari ini sekitar pukul 11.00 WIB,” kata Alfandy, sebagai Forecaster On Duty BMKG Bandara H Asan Sampit.
Sementara itu, Gerhana Matahari adalah peristiwa terhalangnya cahaya Matahari oleh Bulan sehingga tidak semuanya sampai ke Bumi. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase bulan baru dan dapat diprediksi sebelumnya.
Adapun Gerhana Bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan dan selalu terjadi pada saat fase purnama. Pada tahun 2020 ini diprediksi terjadi enam kali gerhana, yaitu:
- Gerhana Bulan Penumbra (GBP) 11 Januari 2020 yang dapat diamati di Indonesia.
- Gerhana Bulan Penumbra (GBP) 6 Juni 2020 yang dapat diamati di Indonesia.
- Gerhana Matahari Cincin (GMC) 21 Juni 2020 yang dapat diamati di Indonesia berupa Gerhana Matahari Sebagian, kecuali di sebagian besar Jawa dan sebagian kecil Sumatera bagian Selatan.
- Gerhana Bulan Penumbra (GBP) 5 Juli 2020 yang tidak dapat diamati di Indonesia.
- Gerhana Bulan Penumbra (GBP) 20 November 2020 yang dapat diamati di wilayah Indonesia bagian Barat menjelang gerhana berakhir.
- Gerhana Matahari Total (GMT) 14 Desember 2020 yang tidak dapat diamati di Indonesia.
Sementara, Gerhana Matahari Cincin terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi tepat segaris dan pada saat itu piringan Bulan yang teramati dari Bumi lebih kecil daripada piringan Matahari. Akibatnya, saat puncak gerhana, Matahari akan tampak seperti cincin, yaitu gelap di bagian tengahnya dan terang di bagian pinggirnya.
Namun diimbau, agar masyarakat dapat berhati-hati ketika hendak menikmati fenomena Gerhana Matahari Cincin. Sebab melihat gerhana matahari secara langsung dengan mata terbuka sangatlah berbahaya. (D2,IB/Inovasi Borneo)

