
Puruk Cahu,MKNews – Antrian kendaraan roda dua dan roda empat terlihat mengular hingga ratusan meter di ruas jalan sekitar SPBU Pertamina 64.739.01 yang berlokasi di dekat Masjid Agung, Jl. Jenderal Sudirman, Puruk Cahu, Jumat (8/5/2026).
Kendaraan berjejer dalam dua baris, menyebabkan kepadatan arus lalu lintas di kawasan tersebut. Kepadatan antrian ini ternyata bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan BBM jenis Pertalite maupun Pertamax.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, antrian panjang ini muncul akibat anggapan salah dari segelintir masyarakat yang khawatir pasokan BBM bakal langka. Kekhawatiran itu muncul menyusul tensi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, mengingat sebagian pasokan minyak dunia berasal dari kawasan Timur Tengah.Padahal, fakta di lapangan menunjukkan pasokan BBM jenis Pertalite, Pertamax, maupun solar dari Pertamina ke seluruh SPBU di wilayah Puruk Cahu berjalan sangat lancar dan sesuai jadwal pengiriman.Namun di sisi lain, diduga ada permainan harga dan penimbunan yang dilakukan oknum tertentu.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan harga jual eceran BBM jenis Pertalite dan Pertamax di luar SPBU bervariasi tidak wajar, yakni berkisar antara Rp17.000 hingga Rp25.000 per liter di wilayah dalam kota.Terlihat pula hampir setiap hari, para pelangsir yang menjadi pemasok bagi pedagang eceran terlihat mengantre di SPBU tersebut, diduga untuk mengambil stok dalam jumlah besar guna dijual kembali dengan harga tinggi.
Menanggapi kondisi ini, Wakil Ketua I DPRD Murung Raya, Dina Maulidah menyatakan bahwa pasokan BBM ke SPBU di Puruk Cahu selama ini sebenarnya aman dan lancar. Ia sangat berharap situasi ini segera membaik dan kembali normal seperti sediakala.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat agar membeli BBM hanya untuk kebutuhan pribadi atau dipakai sendiri, bukan untuk diperdagangkan kembali. Dan jika memang berjualan, jualah dengan harga yang wajar, jangan mengambil keuntungan berlebihan. Karena hal itu membuat harga di tingkat pengecer menjadi sangat mahal dan memberatkan konsumen,” tegas Dina.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kami belum berhasil menghubungi dinas atau instansi terkait untuk mendapatkan tanggapan maupun langkah penanganan resmi terkait lonjakan harga dan praktik jual beli BBM tidak wajar tersebut.

