Bappedalitbang Adakan Rapat Konsultasi Regional Produk Domestik Regional Bruto Prov.Kalteng

Sampit – http://inovasiborneo.co id-Dalam rangka mengetahui kontribusi perekonomian dan identifikasi potensi sektor unggulan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Tengah sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) menyelenggarakan Rapat Konsultasi Regional Produk Domestik Regional Bruto (Konreg PDRB) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2023, bertempat di Palace Ballroom Aquarius Boutique Hotel Sampit, Kotawaringin Timur, Kamis (9/11/2023).

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili oleh Kepala Bappedalitbang Prov. Kalteng Leonard S. Ampung membuka secara resmi Rapat Konsultasi Regional Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2023 yang bertemakan  Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Melalui Peningkatan Daya Saing Daerah dan Pengembngan Sektor Unggulan Daerah Untuk Mewujudkan Kalteng Makin BERKAH.

Bappedalitbang Prov. Kalteng Selenggarakan Konreg PDRB Prov. Kalteng Tahun 2023

Kepala Bappedalitbang Prov. Kalteng Leonard S. Ampung saat menyampaikan sambutan

Dalam sambutannya, Leonard S. Ampung  mengatakan bahwa dalam rangka pengembangan ekonomi regional Kalimantan Tengah, hasil analisis data PDRB Kalimantan Tengah periode 2018-2022 menunjukkan bahwa terdapat empat sektor basis yang masuk dalam kriteria sektor prospektif, yaitu sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; sektor Pertambangan dan Penggalian; sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; serta sektor Jasa Pendidikan.

“Sektor pertambangan dan penggalian ditentukan sebagai sektor unggulan, sedangkan sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan ditentukan sebagai sektor potensial. Hasil tersebut selaras dengan hasil analisis PDRB di tingkat kabupaten/kota dan hasil analisis Input-Output yang didasarkan pada tabel Inter Regional Input-Output (IRIO) Kalimantan Tengah,” ungkapnya.

Ditambahkannya, berdasarkan Kajian Fiskal Regional Kalimantan Tengah Triwulan II Tahun 2023 yang dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalimantan Tengah, Perekonomian Kalimantan Tengah Triwulan II tahun 2023 tumbuh melambat sebesar 2,96% Year On Year (yoy), melambat dibandingkan Triwulan I 2023 yang tumbuh 3,22% (yoy) dengan laju pertumbuhan secara triwulan 2,76% quarter to quarter (q to q). Kondisi ini jauh lebih melambat jika dibandingkan capaian Triwulan II tahun 2022 sebesar 6,77% (yoy).

“Perlambatan tersebut utamanya disebabkan oleh kondisi high base effect yang merupakan pengaruh negatif dari berakhirnya periode windfall komoditas unggulan Kalimantan Tengah pada periode awal tahun 2022,dan kontraksi lanjutan sektor Pertambangan dan Penggalian yang mencapai -17,89% (yoy), yang memberikan tekanan terhadap kinerja Ekspor sebagai komponen utama struktur ekonomi Kalimantan Tengah,” jelasnya.


Ia juga menambahkan, pada tahun 2022 gap positif laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi antara Kalimantan Tengah dengan Pulau Kalimantan atau Nasional mengindikasikan bahwa Kalimantan Tengah menerima keuntungan yang lebih tinggi atas peningkatan harga global komoditas batu bara dan CPO.

“Sebagai dampak lanjutan, dalam pembentukan angka pertumbuhan ekonomi tahun 2023, Kalimantan Tengah mengalami high base effect yang lebih tinggi dari wilayah lainnya. Terlebih lagi, nilai pertumbuhan sektor aktivitas ekonomi lainnya tumbuh lebih lambat dari regional Pulau Kalimantan dan Nasional,” ujar Leonard.

Di akhir sambutannya, Leonard menyampaikan bahwa transformasi struktur ekonomi penting untuk segera dipikirkan, dengan pertimbangan bahwa apabila suatu negara/daerah lebih menekankan pada eksploitasi sektor primer seperti sumber daya alam dan pertanian (perkebunan) misalnya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan income per kapita tinggi, tetapi secara sadar atau tidak sadar merusak lingkungan, maka akan diikuti dengan permasalahan lingkungan dalam jangka panjang yang akan berdampak terhadap ekologi, kerusakan lingkungan dan permasalahan sosial di kemudian hari, yang tentu saja social cost dan biaya recovery-nya akan lebih tinggi.

“Paradigma green growth economy memastikan semua hal bertumbuh dan berkembang secara simultan dalam segala aspek, seperti pertumbuhan ekonomi yang inklusif, inklusivitas sosial, pengentasan kemiskinan dan environmental sustainability sebagai perwujudan tujuan pembangunan berkelanjutan,” pungkas Kepala Bappedalitbang Prov. Kalteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *